Bagaimana rasaya dirindukan? Diinginkan kehadiran, kebersamaan juga kehangatan? Tentu membahagiakan bukan? Menjadi orang tua yang dirindukan adalah tentang membangun hubungan yang saling menghormati dan penuh kasih sayang dengan memberikan rasa memiliki dan tempat untuk kembali.

Alasan mengapa kita perlu membangun hubungan yang baik dengan anak:

Tulisan ini membahas bagaimana memahami perasaan dirindukan anak dengan prinsip NLP Neuro Linguistik Programing. Manfaatnya sebagai berikut:

Ada tiga unsur dalam Neuro Linguistik Programing yang menjadi dasar terbentukkan relasi anak dan orangtua.
Pertama, Mirroring adalah teknik meniru secara halus perilaku non-verbal lawan bicara, seperti bahasa tubuh, gestur, postur tubuh, ekspresi wajah, hingga ritme bicara, nada suara, atau kata-kata mereka. Tujuannya adalah untuk menciptakan keselarasan dan membuat lawan bicara merasa lebih nyaman dan terhubung dengan kita.

Salin bahasa tubuh: Jika anak duduk bersila, Anda juga bisa duduk bersila. Jika anak berbicara dengan suara pelan, Anda juga bisa menyesuaikan nada suara Anda.

Tiru ekspresi wajah: Jika anak terlihat senang, tersenyumlah. Jika anak terlihat sedih, tunjukkan empati dengan ekspresi yang sesuai.

Ulangi kata-kata kunci: Jika anak mengatakan “Aku tidak suka matematika”, Anda bisa merespon dengan “Jadi, kamu merasa matematika itu sulit ya?”

Kedua, Pacing adalah teknik yang lebih luas daripada mirroring. Selain meniru perilaku non-verbal, pacing juga melibatkan menyamakan diri dengan dunia internal lawan bicara, seperti cara mereka berpikir, merasa, dan berbicara. Ini bisa dilakukan dengan cara mencocokkan kata-kata kunci yang mereka gunakan, sistem representasi (visual, auditori, kinestetik), dan bahkan kecepatan berbicara.

Gunakan bahasa yang sama: Sesuaikan kosakata dan gaya bicara Anda dengan usia dan pemahaman anak.

Masuki dunia mereka: Tunjukkan minat pada hal-hal yang disukai anak, seperti permainan, hobi, atau teman-temannya.

Bagikan cerita pengalaman Anda: Ceritakan kisah masa kecil Anda yang relevan dengan situasi yang sedang dihadapi anak.

Ketiga, Leading adalah tahap setelah pacing, di mana kita mulai mengarahkan percakapan ke arah yang kita inginkan. Setelah berhasil membangun rapport melalui mirroring dan pacing, kita bisa secara halus menggeser fokus percakapan menuju tujuan yang ingin kita capai.

Ajukan pertanyaan terbuka: Dorong anak untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaannya dengan pertanyaan seperti “Apa yang membuatmu merasa seperti itu?” atau “Bagaimana menurutmu kita bisa menyelesaikan masalah ini?”.

Berikan pilihan: Berikan anak beberapa pilihan untuk membantu mereka merasa lebih berdaya. Misalnya, “Mau makan siang dulu atau bermain dulu?”

Modelkan perilaku yang diinginkan: Tunjukkan pada anak bagaimana cara berperilaku yang baik dan sopan.

Contoh Mirroring: meniru secara halus perilaku non-verbal anak, seperti ekspresi wajah, nada suara, atau gerakan tubuh. Tujuannya adalah untuk menunjukkan empati dan membuat anak merasa dipahami.
Contoh Pacing: menyesuaikan diri dengan dunia internal anak, termasuk cara berpikir, merasa, dan berbicara. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang sama dengan anak, atau menggambarkan situasi dari perspektif anak.
Contoh Leading: mengarahkan percakapan atau perilaku anak ke arah yang kita inginkan, namun tetap dengan cara yang lembut dan tidak memaksa.


Penerapan situsional
Anak sedang marah:

Anak kesulitan mengerjakan PR:

Anak ingin membeli mainan:

Waktu Berkualitas:

Saat Anak Sedang Kesulitan:

Saat Mengajarkan Nilai:

Ada 4 hal pada diri anak yang perlu diperhatikan orangtua yaitu :
Pikiran

Perasaan

Keinginan

Kebutuhan

Memahami dunia batin anak, yang meliputi pikiran, perasaan, keinginan, dan kebutuhannya, adalah kunci untuk membangun hubungan yang kuat dan sehat dengan mereka. Ketika kita sebagai orang tua berusaha untuk benar-benar memahami apa yang ada di dalam diri anak, kita menciptakan fondasi yang kokoh untuk relasi yang penuh kasih sayang dan saling percaya.

Selain itu memahami pikiran, perasaan, keinginan, dan kebutuhan anak adalah investasi jangka panjang. Dengan membangun hubungan yang kuat sejak dini, kita tidak hanya memberikan kebahagiaan bagi anak, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan sukses di masa depan. Ikatan emosional yang kuat sejak dini adalah fondasi bagi anak untuk tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan bahagia. Ini juga kunci menjadi orang tua yang selalu mereka rindukan.



Soffy Balgies
Psikolog, Konselor keluarga & Talent Advisor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *