EFT Introduction

Table of Contents

Emotion-Focused Therapy (EFT) merupakan pendekatan terapi neohumanistik dan eksperiensial yang dirumuskan dalam kerangka teori emosi modern serta didukung oleh neurosains afektif. Pendekatan ini berakar pada tradisi terapi humanistik-fenomenologis yang menekankan pengalaman subjektif individu sebagai pusat pemahaman psikologis. Selain itu, EFT juga mengintegrasikan teori emosi dan kognisi, serta memanfaatkan temuan dari neurosains afektif untuk menjelaskan bagaimana emosi bekerja dalam diri manusia. Tidak hanya itu, pendekatan ini turut mengadopsi perspektif teori sistem dinamis dan keluarga, sehingga mampu melihat individu dalam konteks relasional dan perubahan yang terus berlangsung.

Dalam EFT, emosi dipandang sebagai aspek fundamental dalam kehidupan manusia. Emosi dasar seperti kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan jijik dianggap sebagai fondasi bagi terbentuknya kerangka psikologis yang kompleks. Kerangka ini membantu individu memahami, menafsirkan, dan merespons lingkungan di sekitarnya. Sistem emosional sendiri dipandang sebagai sistem motivasi utama yang bekerja sepanjang rentang kehidupan manusia. Melalui sistem ini, individu dapat mempertahankan kelangsungan hidup sekaligus beradaptasi dengan berbagai tuntutan lingkungan.

Lebih jauh, EFT memandang bahwa emosi memiliki tujuan dan fungsi adaptif. Emosi tidak hanya sekadar reaksi, tetapi juga mengarahkan perilaku yang berorientasi pada tujuan tertentu. Setiap emosi memiliki sifat motivasional yang kuat serta aspek fenomenologis yang unik, sehingga memengaruhi cara individu memandang dunia, berpikir, dan bertindak. Dengan demikian, pengalaman emosional menjadi faktor penting yang membentuk persepsi, kognisi, dan perilaku manusia secara keseluruhan.

Sejak awal kemunculannya beberapa dekade lalu, EFT berfokus pada bagaimana perubahan terjadi dalam proses psikoterapi, khususnya melalui pengalaman emosional. Pendekatan ini kemudian berkembang menjadi teori yang lebih komprehensif yang mencakup fungsi dan praktik terapi secara menyeluruh. Dalam perkembangannya, EFT menegaskan bahwa perubahan emosional merupakan inti dari perubahan psikologis yang bertahan lama.

EFT juga mengkritisi pendekatan psikoterapi tradisional yang cenderung terlalu menekankan pada pemahaman sadar, perubahan kognitif, dan perilaku. Menurut EFT, pendekatan tersebut sering kali mengabaikan peran sentral emosi dalam proses perubahan. Meskipun demikian, EFT tidak menolak pentingnya kognisi dan perilaku, melainkan menekankan perlunya keseimbangan dengan aspek emosional.

Dalam praktiknya, EFT menekankan pentingnya kesadaran, penerimaan, dan pemahaman terhadap emosi. Individu didorong untuk mengalami emosi secara mendalam dalam konteks terapi agar dapat mengeksplorasi diri secara lebih autentik. Melalui proses ini, individu belajar memproses emosi secara lebih adaptif, menemukan makna dari pengalaman emosionalnya, serta menggunakannya sebagai dasar untuk perubahan diri. Pada akhirnya, EFT menempatkan emosi sebagai pusat dari proses psikoterapi dan sebagai penggerak utama transformasi psikologis yang mendalam dan berkelanjutan.

Sejak awal kemunculannya beberapa dekade lalu sebagai pendekatan tentang bagaimana orang berubah dalam berbagai episode psikoterapi (Rice & Greenberg, 1984), EFT telah berkembang menjadi teori fungsi dan praktik yang lengkap yang mengusulkan bahwa perubahan emosional merupakan inti dari perubahan yang langgeng. EFT didasarkan pada keyakinan bahwa psikoterapi tradisional terlalu menekankan pemahaman sadar dan perubahan kognitif dan perilaku, mengabaikan peran sentral dan mendasar dari perubahan emosional dalam proses ini. Meskipun tidak menyangkal pentingnya penciptaan makna dan perubahan perilaku, EFT menekankan pentingnya kesadaran, penerimaan, dan pemahaman emosi; pengalaman emosi yang mendalam dalam terapi; dan pentingnya perubahan emosi dalam mendorong perubahan psikoterapi.

EFT berpendapat bahwa emosi itu sendiri memiliki potensi adaptif bawaan yang jika diaktifkan, dapat membantu klien mendapatkan kembali pengalaman diri yang tidak diinginkan dan mengubah keadaan dan interaksi emosional yang bermasalah. Pandangan ini bahwa emosi, pada intinya, adalah sistem adaptif bawaan yang telah berevolusi untuk membantu manusia bertahan hidup dan berkembang telah mendapatkan dukungan empiris yang luas.Emosi terhubung dengan kebutuhan kita yang paling penting (Frijda, 1986).Emosi dengan cepat mengingatkan kita pada situasi yang penting bagi kesejahteraan kita, dengan memberi kita informasi tentang apa yang baik dan buruk bagi kita diperoleh dengan mengevaluasi apakah kebutuhan kita terpenuhi. Mereka juga mempersiapkan dan membimbing kita dalam situasi penting ini untuk mengambil tindakan guna memenuhi kebutuhan kita.

EFT memandang individu sebagai makhluk yang pada dasarnya bersifat afektif. Emosi menetapkan mode pemrosesan dasar (Greenberg, 2015; LeDoux, 1996). Menurut Leslie Samuel Greenberg, seorang psikolog klinis asal Kanada sebagai salah satu pengembang utama dari EFT  mengintegrasikan riset proses terapi dengan pendekatan humanistik untuk memahami bagaimana perubahan emosional terjadi dalam sesi psikoterapi. Misalnya sasa takut mengaktifkan mekanisme pemrosesan rasa takut yang mencari bahaya, kesedihan memberi tahu kita tentang kehilangan, dan kemarahan memberi tahu kita tentang pelanggaran.

Emosi juga merupakan sistem komunikasi utama kita, dengan cepat memberi sinyal niat kita dan memengaruhi orang lain ketika diungkapkan. Sebagai sistem orientasi makna, komunikasi, dan tindakan utama kita, emosi menentukan sebagian besar dari siapa kita. Alih-alih “Saya berpikir, maka saya ada,” EFT didasarkan pada gagasan bahwa “Saya merasa,maka saya ada” dan mengusulkan bahwa pertama kita merasa, lalu kita berpikir, dan kita sering kali hanya berpikir sejauh kita merasa. Dengan demikian, perubahan emosional dipandang sebagai kunci untuk perubahan kognitif dan perilaku yang berkelanjutan.

Dalam EFT, klien dibantu untuk lebih baik mengidentifikasi, mengalami, menerima, mengeksplorasi,memahami, mengubah, dan mengelola emosi mereka secara fleksibel. Akibatnya,mereka menjadi lebih terampil dalam mengakses informasi penting dan makna tentang diri mereka sendiri dan dunia mereka yang diberikan oleh emosi, serta menjadi lebih terampil dalam menggunakan informasi tersebut untuk hidup secara vital dan adaptif. Klien dalam terapi juga didorong untuk menghadapi emosi yang ditakuti untuk memproses dan mengubahnya. Premis utama yang memandu intervensi dalam EFT adalah bahwa transformasi hanya mungkin terjadi ketika individu menerima diri mereka sendiri apa adanya. EFT adalah pendekatan yang dirancang untuk membantu klien menjadi sadar dan menggunakan emosi mereka secara produktif.

EFT tumbuh dari, dan merupakan respons terhadap, penekanan berlebihan pada kognisi dan perilaku dalam psikoterapi Barat. Lebih mudah untuk fokus pada kognisi daripada emosi implisit karena lebih mudah diakses oleh kesadaran,dan lebih mudah untuk mencoba mengubah perilaku daripada respons emosional otomatis karena perilaku lebih mudah dikendalikan secara sengaja.Namun, emosi memberikan pengaruh kunci pada kognisi dan perilaku. EFT berupaya menggeser fokus dengan menekankan peran penting pengalaman emosi adaptif dan maladaptif dalam perubahan terapeutik.

Disadur dari Buku : Emotion-focused therapy (Revised ed.), karya Leslie Samuel Greenberg (2017).

Soffy Balgies

Psikolog & Trainer CTC Therapy, SEFT Total Healing dan Emotional Intelligence

Konsultasikan Masalah Psikologi Anda, Temukan Solusi Bersama Kami

Office Location

1403 Masonic Hill Road
98408 Tacoma, WA

Hubungi Kami

1403 Masonic Hill Road
98408 Tacoma, WA