Konseling Kedukaan dalam Pemulihan Psikososial di Pesantren Tanggap Bencana

Table of Contents

Soffy Balgies M.Psi Psikolog

Tragedi ambruknya bangunan di Pesantren Al Khoziny yang menelan korban jiwa meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pesantren termasuk keluarga santri. Kehilangan santri yang dianggap sebagai “Syuhada” menciptakan duka kolektif yang kompleks. Tanpa penanganan tepat, duka ini berisiko menjadi complicated grief (kedukaan patologis). Oleh karena itu, konseling kedukaan menjadi metode intervensi krusial untuk memvalidasi emosi keluarga korban dan santri yang rentan, membantu mereka memaknai musibah melalui pendekatan psikospiritual, serta memulihkan stabilitas psikososial di lingkungan pesantren pasca-bencana.

Tujuan umum dari konseling kedukaan adalah mendampingi individu dalam proses adaptasi pasca-kehilangan orang yang dicintai, sehingga mereka mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan baru dan melanjutkan fungsi hidup tanpa kehadiran fisik mendiang. Secara lebih spesifik, intervensi ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan realitas kehilangan guna meminimalisir penyangkalan yang menghambat pemulihan. Konselor berperan membantu penduka dalam mengelola emosi yang mendalam serta manifestasi dlam bentuk perilaku yang sering kali muncul sebagai reaksi trauma. Selain itu, konseling ini berfungsi mengidentifikasi dan mengatasi berbagai hambatan penyesuaian diri, baik yang bersifat eksternal seperti perubahan peran sosial, internal terkait gejolak psikologis, maupun aspek spiritual yang sering kali terguncang pasca-musibah.

Konseling kedukaan ini bisa diberikan oleh Profesional (dokter, perawat, psikolog, atau pekerja sosial) yang terlatih yang mendukung seseorang yang mengalami kehilangan yang signifikan, baik perorangan atau kelompok. Selain itu bisa diberikan oleh Relawan terpilih dan terlatih, dan didukung oleh para profesional. Serta swadaya kelompok di mana orang yang berduka menawarkan bantuan kepada orang yang berduka lainnya, dengan atau tanpa dukungan profesional.

Kedukaan sendiri menurut Islam adalah ujian & musibah sebagai bagian dari kehidupan. Disebutkan dalam Al-Baqarah 155–156 “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.” Dalam hal ini konselor mengajak penduka menganggap normalisasi bahwa musibah adalah ujian hidup, lalu menguatkan sikap acceptance berbasis iman serta mengucapkan kalimat istirja’ sebagai teknik spiritual coping.

Selain itu dalam Az-Zumar 53 “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”. Ayat ini memberikan panduan konseling untuk intervensi terhadap pencegahan terjadinya hopelessness serta pentingnya dalam pencegahan depresi pascabencana. Menurut kajian lainnya, Al-Insyirah 5–6 “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Intisari ayat ini menjadi panduan konseling agar konselor membantu penduka meyakini harapan di tengah krisis serta menguatkan optimisme realistis.

Penulis sebagai dosen di prodi psikologi dan prodi tasawuf dan psikoterapi  melakukan konseling kedukaan ini dalam tim gabungan yang terdiri psikolog, terapis, akademisi dan dai. Anggota tim ini adalah perwakilan bidang pengabdian masyakarat Asosiasi Psikologi Islam, pengurus Badan Kontak Majelis Taklim Jawa Timur dan terapis di Indonesia CTC Practitioner Assosciation. Konseling dilakukan bukan di tempat formal yang standar, namun di pelataran kampus Al Khoziny yang digunakan untuk posko bagi keluarga yang menunggu pengumuman ditemukannya jenazah. Kemudian lokasi berikutnya di tenda BNBP di halaman dinas Kesehatan propinsi Jawa Timur yang bersebelahan langsung Rumah Sakit Bhayangkara. Terakhir di tenda penyerahan jenazah di rumah sakit bhayangkara.

Konseling diberikan diantaranya untuk kesiapan keluarga saat menerima pengumuman ditemukannya santri baik hidup atau meninggal dan saat serah terima jenasah. Selain itu konseling juga diberikan kepada santri yang menjadi saksi dan penyintas kejadian. Tugas konselor mendampingi dan membantu penduka melakukan empat tugas menurut J. William Worden, yakni pertama, Menerima Kenyataan Kehilangan (Kognitif & Emosional). Kedua Mengalami & Mengolah Rasa Sakit Duka. Ketiga, Menyesuaikan Diri dengan Dunia Tanpa Orang yang Meninggal. Keempat Menemukan Hubungan yang Bertahan sambil Melanjutkan Hidup.

Secara praktis konselor membantu penduka mengakui bahwa kehilangan itu nyata. Ini berarti peduka tidak lagi dalam penyangkalan bahwa orang yang hilang atau meninggal benar-benar pergi. Penduka didorong untuk membiarkan dan mengalami rasa sakit yang datang akibat kehilangan termasuk sedih, marah, bersalah, bingung — bukannya menekannya. Konselor memastikan penduka dapat beradaptasi dengan ketiadaan rutinitas menjenguk atau mengirim ‘sangu’ untuk almarhum. Sedangkan santri harus terbiasa dengan “kursi kosong” di asrama tanpa temannya yang sudah menjadi syuhada. Selain itu konselor membantu penduka membangun kembali identitas baru. Misalnya, orang tua yang kini kehilangan anaknya, atau santri yang kehilangan sahabat karibnya. Konselor juga memastikan penduka memaknai kembali keyakinan spiritual setelah musibah terjadi di tempat suci dengan cara syahid. Terakhir konselor mengajak penduka bukan melupakan, melainkan menempatkan almarhum di “tempat” yang tepat di hati. Konselor membantu menyusun cara untuk tetap terhubung secara emosional dengan orang yang telah meninggal, tanpa mengorbankan kelangsungan hidup dan pemenuhan kehidupan sendiri.

Melalui pendekatan yang empatik, konseling kedukaan ini membuat keluarga dibimbing untuk menemukan cara-cara sehat dalam mengenang serta menjaga ikatan batin dengan almarhum. Hasil konseling kedukaan ini mewujudkan transformasi kesedihan menjadi kekuatan untuk berinvestasi kembali dalam kehidupan, sehingga individu tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi mampu menemukan makna baru dan tujuan di tengah situasi yang telah berubah. Dengan demikian, konseling kedukaan menjadi jembatan pemulihan bagi para penyintas, terutama dalam konteks komunitas pesantren, untuk meraih kembali stabilitas psikososial dan ketahanan mental yang berkelanjutan di masa depan.

Ditulis untuk Webinar BERAPI Bincang Ramadhan Bersama Asosiasi Psikologi Islam

Sabtu 28 Februari 2026

Soffy Balgies, M.Psi, Psikolog

-Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat PP Asosiasi Psikologi Islam (Himpsi)

-Pengurus bidang pelatihan Badan Kontak Majelis Taklim Jawa Timur

-Ketua Asosiasi Psikologi Positif Indonesia wilayah Jawa Timur

-Ketua Asosiasi Konselor Keluarga dan Pernikahan Indonesia

-Sekjen di ICPA (Indonesia CTC Practitioner Association)

Konsultasikan Masalah Psikologi Anda, Temukan Solusi Bersama Kami

Office Location

1403 Masonic Hill Road
98408 Tacoma, WA

Hubungi Kami

1403 Masonic Hill Road
98408 Tacoma, WA